Menstruasi Pertama
Menarche adalah haid atau menstruasi pertama kali yang dialami oleh seorang wanita. Bagi orang wanita yang normal menstruasi adalah pelepasan dinding Rahim endometrium yang disertai dengan pendarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali saat hamil. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus menstruasi. Siklus menstruasi berkisar antara 21 – 40 hari. Usia mendapatkan haid/menstruasi berbeda antara yang satu dengan yang lain, ada wanita yang berumur 9 tahun sudah mengalami haid.
Ketika pertama kali mengalami menstruasi, tidak perlu merasa takut, malu, cemas atau kaget karena peristiwa ini adalah kodar dari Alloh yang setiap wanita normal pasti mengalaminya. Pada saat hal itu terjadi segera memberitahu Ibu atau Kakak perempuan atau kepada Mubalighotnya.
Ketika pertama kali mengalami menstruasi, tidak perlu merasa takut, malu, cemas atau kaget karena peristiwa ini adalah kodar dari Alloh yang setiap wanita normal pasti mengalaminya. Pada saat hal itu terjadi segera memberitahu Ibu atau Kakak perempuan atau kepada Mubalighotnya.
...قَالَ : مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ...رواه البخاري
Nabi Muhammad SAW.bersabda ( kepada ‘Aisyah ): “kenapa kamu, sedang haid ya ? 'aisyah menjwab : iya, Nabi Bersabda : sungguhnya ( Haid ) Ini merupakan suatu hal yang telah Allah tetapkan atas anak cucu perempuan Adam.”
Hal-hal yang harus diperhatikan :
Ketika menstruasi datang, siapkan celana dalam dan pembalut yang pas dengan ukuran tubuh masing-masing. Cobalah beberapa produk pembalut sampai menemukan produk yang cocok. Pasang pembalut sesuai aturan pemakaiannya.
Pembalut agar diganti minimal satu kali dalam 3 atau 4 jam . Pembalut yang selesai dipakai segera dicuci sampai bersih, dibungkus dengan kertas, baru dibuang. ( Jangan dibuang dilobang WC ).
Masa Haid
Masa haid, antara wanita satu dengan yang lain tidak sama. Menurut sebagian pendapat ,masa haid itu paling cepat satu hari dan paling lama 15 hari. Setelah bersih, segeralah junub dan segera melaksanakan sholat atau ibadah-ibadah yang lain. Bila keluarnya darah lebih dari 15 hari berarti bukan lagi darah haid, akan tetapi penyakit ( Istihadhoh ). Bila terjadi hal semacam ini ( Istihadhoh ) maka segera junub, dan melaksanakan sholat seperti biasa.
Hal-hal yang harus diperhatikan :
Ketika menstruasi datang, siapkan celana dalam dan pembalut yang pas dengan ukuran tubuh masing-masing. Cobalah beberapa produk pembalut sampai menemukan produk yang cocok. Pasang pembalut sesuai aturan pemakaiannya.
Pembalut agar diganti minimal satu kali dalam 3 atau 4 jam . Pembalut yang selesai dipakai segera dicuci sampai bersih, dibungkus dengan kertas, baru dibuang. ( Jangan dibuang dilobang WC ).
Masa Haid
Masa haid, antara wanita satu dengan yang lain tidak sama. Menurut sebagian pendapat ,masa haid itu paling cepat satu hari dan paling lama 15 hari. Setelah bersih, segeralah junub dan segera melaksanakan sholat atau ibadah-ibadah yang lain. Bila keluarnya darah lebih dari 15 hari berarti bukan lagi darah haid, akan tetapi penyakit ( Istihadhoh ). Bila terjadi hal semacam ini ( Istihadhoh ) maka segera junub, dan melaksanakan sholat seperti biasa.
وَقَالَ عَطَاءٌ الْحَيْضُ يَوْمٌ إِلَى خَمْسَ عَشْرَةَ.رواه البخاري
Atha’ berkata, “Haid itu sehari sampai lima belas hari.”
Tanda-tanda suci dari haid
Kita dapat mengetahuinya melalui dua keadaan, yaitu :
Tanda-tanda suci dari haid
Kita dapat mengetahuinya melalui dua keadaan, yaitu :
- Keluarnya air berwarna putih seperti air kapur yang mengikuti haid. Namun, terkadang bukan dengan warna putih, dan perbedaan ini disebabkan oleh keadaan wanita masing-masing.
- Kering, yaitu ketika dimasukan potongan kain/kapas ke dalam lubang kemaluan kemudian dikeluarkan maka kain akan tetap dalam keadaan kering tidak ada sesuatupun, tidak ada darah, warna keruh atau kuning.
وَكُنَّ نِسَاءٌ يَبْعَثْنَ إِلَى عَائِشَةَ بِالدُّرْجَةِ فِيهَا الْكُرْسُفُ فِيهِ الصُّفْرَةُ فَتَقُولُ لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ الْقَصَّةَ الْبَيْضَاءَ تُرِيدُ بِذَلِكَ الطُّهْرَ مِنَ الْحَيْضَةِ.البخاري
Ada beberapa orang wanita yang sama memberikan sehelai kain kepada Aisyah, yang di dalamnya ada kapasnya dan tampaklah di kapas itu warna kuning. Aisyah berkata, “Janganlah terburu-buru ( menyatakan suci ), sampai kamu melihat sehelai kain itu berwarna putih. ‘Aisyah menghendaki berhentinya haid secara sempurna.”
Segera mandi setelah suci
Caranya :
Segera mandi setelah suci
Caranya :
- Bersihkan sekitar kemaluan dari darah haid
- Berwudlulah, seperti akan melaksanakan sholat.Masukkan jari-jari ke dalam air, kemudian usapkan jari-jari ke sela-sela rambut mengenai kulit kepala sampai rata dan terasa segar pada kulit kepala. Kemudian ambil air dengan tangan sebanyak tiga kali cawukan ,cawukan pertama basuhkan ke bagian kepala sebelah kanan, cawukan kedua basuhkan bagian kepala sebelah kiri, cawukan ketiga basuhkan bagian tengah kepala.
- Siramlah seluruh tubuh sesuai kehendak.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ قَالَتْ لِلنَّبِيِّ كَيْفَ أَغْتَسِلُ مِنَ الْمَحِيضِ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَوَضَّئِي ثَلاَثًا … .البخاري
Aisyah r.a. berkata, “Seorang wanita [dari Anshar] bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang cara dia mandi dari haid. Beliau lalu memerintahkan kepadanya bagaimana ia mandi. Beliau bersabda, ‘Ambillah sepotong kain yang diberi kasturi lalu bersucilah kamu dengannya , Nabi bersabdanya (tiga kali).”
Cara Junub I
Cara Junub I
عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ إ ِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اغْتَسَلَ ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعَرَهُ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَرْ‘Aisah berkata : ketika nabi mandi junub maka Nabi :
1. Membasuh kedua tangan
2. Berwudlu seperti untuk sholat
3. Menyela-nyelai rambut sampai kulit kepala terasa segar.
4. Menuangkan air pada kepala tiga kali cawukan
5. Kemudian Membasuh seluruh badanوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.البخاري
2. Berwudlu seperti untuk sholat
3. Menyela-nyelai rambut sampai kulit kepala terasa segar.
4. Menuangkan air pada kepala tiga kali cawukan
5. Kemudian Membasuh seluruh badanوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.البخاري
Cara Junub II
عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ قَالَتْ تَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى ثُمَّ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثُمَّ نَحَّى رِجْلَيْهِ فَغَسَلَهُمَا هَذِهِ غُسْلُهُ مِنَ الْجَنَابَةِ.البخاري
Maimunah istri Nabi SAW berkata : ( Nabi mandi junub ) dengan :
1. Berwudlu seperti akan mengerjakan sholat selain membasuh kedua kaki
2. Membasuh kotoran sekitar farji
3. ( Menyela-nyelai rambut ) lalu Menyiramkan air pada seluruh tubuh sampai rata
4. Pindah dari tempat berdirinya lalu membasuh kedua kakinya.
Demikianlah cara mandi junubnya nabi.
1. Berwudlu seperti akan mengerjakan sholat selain membasuh kedua kaki
2. Membasuh kotoran sekitar farji
3. ( Menyela-nyelai rambut ) lalu Menyiramkan air pada seluruh tubuh sampai rata
4. Pindah dari tempat berdirinya lalu membasuh kedua kakinya.
Demikianlah cara mandi junubnya nabi.
Larangan Bagi Muslimah Saat Haid
A. Shalat (baik wajib maupun sunnah). Dan tidak membayarnya saat selesai Haid
عَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا: أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ : إِنَّ دَمَ الحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاةِ، فَإِذا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي، رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ
Dari Aisyah ra berkata, Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadhoh, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, Darah haid itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar darah haid, janganlah shalat. Bila sudah selesai haid, maka ( mandi )dan berwudhulah dan lakukan shalat ( walaupun masih mengeluarkan darah Istihadhoh ).
Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik wajib maupun sunah, dan tidak sah shalatnya. Juga tidak wajib baginya mengerjakan shalat, kecuali jika ia mendapatkan sebagian dari waktunya sebanyak satu raka’at sempurna, baik pada awal atau akhir waktunya.
Diharamkan bagi wanita haid mengerjakan shalat, baik wajib maupun sunah, dan tidak sah shalatnya. Juga tidak wajib baginya mengerjakan shalat, kecuali jika ia mendapatkan sebagian dari waktunya sebanyak satu raka’at sempurna, baik pada awal atau akhir waktunya.
Contoh pada awal waktu : Seorang wanita mendapati haid setelah matahari terbenam tetapi ia sempat menjumpai kira-kira satu ra’kaat dari waktunya sholat Maghrib. Maka setelah suci wajib baginya membayar shalat maghrib tersebut karena ia telah mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat sebelum kedatangan haid.
Adapun contoh pada akhir waktu: seorang wanita suci dari haid sebelum matahari terbit dan masih sempat menjumpai kira-kira satu rakaat dari waktunya sholat shubuh. Maka setelah suci wajib baginya membayar shalat Shubuh tersebut karena ia masih sempat mendapatkan sebagian dari waktunya yang cukup untuk satu rakaat.
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ لِعَائِشَةَ أَتَجْزِي إِحْدَانَا صَلاَتَهَا إِذَا طَهُرَتْ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ كُنَّا نَحِيضُ مَعَ النَّبِيِّ فَلاَ يَأْمُرُنَا بِهِ ، أَوْ قَالَتْ فَلاَ نَفْعَلُهُ.البخاري
Dari Mu’adzah bahwasanya seorang wanita berkata kepada Aisyah, “Apakah salah seorang di antara kita shalatnya mencukupi apabila ia suci?” Aisyah menjawab, “Apakah kamu seorang Haruri? Kami haid bersama Nabi, namun beliau tidak memerintahkan kami untuk membayarnya .” Atau, ia berkata, “Kami tidak mengerjakannya.”
B. Puasa (wajib maupun sunnah). Tapi membayar puasa wajib saat telah suci.
وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رسُولُ الله : أَلَيْسَ إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ. رواه البخاري
Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Bukankah bila wanita mendapat haidh, dia tidak boleh shalat dan puasa?”
قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ. رواه مسلم
‘Aisyah berkata : Ketika kami mengalami haid, diperintahkan kepada kami mengqadha’( membayar ) puasa dan tidak diperintahkan mengqadha’( membayar ) shalat”.
Jika seorang wanita kedatangan haid ketika sedang berpuasa maka batallah puasanya, sekalipun hal itu terjadi saat menjelang maghrib, dan wajib baginya membayar puasa hari itu jika puasa wajib. Namun, jika ia merasakan tanda-tanda akan datangnya haid sebelum maghrib, tetapi baru keluar darah setelah maghrib, maka puasanya itu sempurna dan tidak batal.
Jika pada saat terbitnya fajar seorang wanita masih dalam keadaan haid maka tidak sah berpuasa pada hari itu, sekalipun ia suci sesaat setelah fajar. Tetapi jika suci menjelang fajar, maka sah puasanya sekalipun ia baru mandi setelah terbit fajar.
C. Membaca Alquran, kecuali hanya potongan – potongan ayat atau beberapa huruf saja. ( Surat-surat pendek ). Adapun memegang , memaknainya diperbolehkan.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ قَالَ: « لاَ تَقْرَإِ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ ». وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِثْلِ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِىِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ قَالُوا لاَ تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْئًا إِلاَّ طَرَفَ الآيَةِ وَالْحَرْفَ وَنَحْوَ ذَلِكَ وَرَخَّصُوا لِلْجُنُبِ وَالْحَائِضِ فِى التَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ.الترمذي
Dari Ibnu Umar , Nabi bersabda : “orang yang haid dan orang yang junub tak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.” Ini adalah pendapat umumnya ahli ilmu dari kalangan shohabat, tabi’in dan ulama’ setelah mereka seperti : Sufyan Ats Tsauri, Ibnu Al Mubarok, Syafi’i, Ahmad dan Ishaq, mereka berkata : orang yang haid dan orang yang junub tidak boleh membaca Al Qur’an kecuali hanya potongan ayat dan huruf dan yang semisalnya, dan diprbolehkan bagi orang yang haid dan junub membaca tasbih, tahlil dan dzikir lainnya.
وَكَانَ أَبُو وَائِلٍ يُرْسِلُ خَادِمَهُ وَهْيَ حَائِضٌ إِلَى أَبِي رَزِينٍ فَتَأْتِيهِ بِالْمُصْحَفِ فَتُمْسِكُهُ بِعِلاَقَتِهِ.
Abu Wa’il mengutus pelayannya yang sedang haid supaya membawa (mengambil) Al-Qur’an dari Abu Razin dengan memegangnya pada gantungannya.
أَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَتْهَا أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حَجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ. البخاري
Aisyah r.a. berkata, “Nabi Muhammad saw. bersandar di pangkuanku, padahal aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Qur’an.”
D. Berdiam diri dalam masjid, kecuali hanya sekedar lewat saja. Adapun mendatangi pengajian atau mendengarkan nasehat diluar masjid diperbolehkan.
فَإِنِّي لاَ أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلاَ جُنُبٍ.ابو داود
Maka sesungguhnya aku ( Nabi )Tidak menghalakan masjid untuk orang yang haid dan orang yang junub”.
وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا... النساء 43
”Dan (jangan pula berdiam di masjid) sedang kalian dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu/lewat saja, sampai kalian mandi”
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلاَّهُنَّ... رواه البخاري
Ummu ‘Athiyah berkata : Kami diperintah ( Nabi ) menyuruh keluar para perempuan yang haid dan beberapa gadis pingitan pada dua hari raya maka mereka menyaksikan perkumpulan dan doanya orng islam dan hendaklah para wanita haid menjauh dari tempat sholat mereka.
Mensucikan pakaian dari darah haid
عنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهَا قَالَتْ سَأَلَتِ امْرَأَةٌ رَسُولَ اللهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِحْدَانَا إِذَا أَصَابَ ثَوْبَهَا الدَّمُ مِنَ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمُ مِنَ الْحَيْضَةِ فَلْتَقْرُصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيه.البخاري
Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah saw., Wahai Rasulullah, bagaimanakah caranya apabila pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apakah yang harus ia perbuat?’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila pakaian salah seorang dari kamu terkena darah haid, gosoklah darah itu kemudian bersihkanlah dengan air. Setelah itu, kamu boleh shalat menggunakan pakaianmu itu.”.
Kewajiban Muslimah setelah menjumpai masa Haid
Bila seorang wanita sudah mengalami haid, berarti wanita tersebut sudah baligh, dan mulai mempertanggung jawabkan dirinya sendiri di hadapan Alloh. Wanita tersebut mulai wajib melaksanakan semua perintah-perintah Alloh seperti : sholat, puasa (ngaji, ngamal, mbela, jamaah, toat) dan lain sebagainya. Dan dia harus menjaga aurot dan menjahui pelanggaran antara pria dan wanita dan larangan-larangan yang lain.
Bila seorang wanita sudah mengalami haid, berarti wanita tersebut sudah baligh, dan mulai mempertanggung jawabkan dirinya sendiri di hadapan Alloh. Wanita tersebut mulai wajib melaksanakan semua perintah-perintah Alloh seperti : sholat, puasa (ngaji, ngamal, mbela, jamaah, toat) dan lain sebagainya. Dan dia harus menjaga aurot dan menjahui pelanggaran antara pria dan wanita dan larangan-larangan yang lain.
عَنْ عَلِىٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنِ النَّبِىِّ قَالَ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ.رواه ابو داود
Dari ‘Ali , Nabi SAW bersabda : Pena ( pencatat amal ) itu diangkat dari tiga : dari orang yang tidur sehingga bangun, dari anak kecil sampai baligh, dari orang gila sampai berakal.
وَقَالَ « يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا ». وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ.ابو داود
Dan Nabi bersabda : wahai Asma’ sesungguhnya ketika wanita itu telah haid maka tidak boleh terlihat anggota badannya kecuali ini dan ini, Nabi isarat pada wajah dan telapak tangannya.

0 komentar: